Sekolah? Buat Apa...?
Inilah yang menjadi fenomena
“negatif” yang menjadi topik tren di masyarakat tentang banyaknya pengangguran
yang terdidik.Banyak sekali ungkapan-ungkapan “negatif” tentang belajar,
misalnya “Ah, ngapain sekolah nanti juga jadi pengangguran”.“Sekolah
tinggi-tinggi kok cuman jadi pedagang kaos”. “sekolah tinggi-tinggi nanti juga
akhirnya ke dapur juga”.
Pendidikan bukanlah sarana untuk menjadi orang kaya
dengan harta. Pendidikan adalah sebuah proses yang mengajak manusia agar ia
dapat berfikir, dan dapat menemukan kebenaran yang seungguhnya. Pendidikan
adalah proses mencari kebenaran. Pendidikan bukanlah sarana mencari kesalahan.
Pendidikan memiliki manfaat tentang terbentuknya manusia yang mau berfikir.
Sayangnya, anak-anak zaman sekarang yang hidup di era serba instan ini ketika
menilai bahwa pendidikan (dalam konteks persekolahan) adalah sarana untuk
mencari uang sebanyak-banyaknya. Banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke
sekolah-sekolah yang mahal hanya karena agar anak mereka memiliki jabatan yang
tinggi. Banyak remaja-remaja yang memiliki kriteria ideal yaitu kalau mereka
hidup dengan uang banyak, mobil mewah, dan atau rumah mewah.
Mungkin kita sudah lupa dengan hadist tentang manfaat
ilmu:
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka
wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan
akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya
maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)
Memang sekolah tidak akan membuat kita kaya raya. Akan
tetapi, dengan kita sekolah kita akan menjadi pribadi yang berpendidikan.
Dengan belajar di sekolah (baik formal maupun non formal) kita akan banyak
menemukan pengalaman serta inovasi-inovasi baru untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia khususnya diri sendiri. Setelah menemukan solusi, kita bisa berbagi
solusi tersebut kepada banyak orang khususnya masyarakat atau lingkungan
sekitar. Kemudian secara tidak langsung kita akan membantu masyarakat, apakah
melalui ide kita, karya kita, atau keterampilan yang telah kita kuasai.
Belajar
dan mengajar
Kita
tahu bahwa belajar tidak hanya pada bangku sekolah formal. Dalam pendidikan non
formal (seperti keagamaan, keterampilan, dll) kita juga bisa belajar. Belajar
dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kemudian, setelah kita belajar,
kita juga punya hal lain yang tidak kalah dengan belajar, yaitu “mengajar”.
Semua manusia terlahir dengan dua kecenderungan.
Kecenderungan untuk belajar (mencari kebenaran/ rasa ingin tahu) dan
kecenderungan untuk memberikan pengetahuan yang ia dapat. Seperti yang kita
tahu tentang belajar dan mengajar, kita tahu tentang sebuah aktivitas-aktivitas
antarindividu satu lain dan individu lain dalam sebuah kegiatan yang saling
mengisi satu sama lain. Mengapa ?
Kita bisa lihat hadits berikut ini:
“Sampaikanlah dariku walau hanya
satu ayat” (HR. Bukhari)
Selain dengan hadits, kita juga bisa menggunakan
dengan analogi sederhana tentang hal ini. Proses belajar dan mengajar ini
ibarat lilin yang saling menyulutkan api dari lilin satu ke lilin yang lainnya.
Misalnya, dalam sebuah ruangan gelap ada 5 lilin. Lilin pertama kita namakan A,
lilin kedua kita namakan B, lilin ketiga kita namakan C, keempat D, kelima E.
Pada suatu waktu, lilin A telah dinyalakan. Setelah lilin A dinyalakan, lilin
tersebut menerangi kegelapan, tetapi keadaan masih gelap. Kemudian lilin A
menyulutkan api kelilin B, lilin B menyulutkan api ke C, C menyulutkan api ke
D, dan hingga ke lilin E. Setelah semua lilin menyala, ruangan menjadi sangat
terang. Cerita tentang lilin tersebut ibarat keadaan kita yang saling belajar
dan mengajar satu sama lain. Jika kita hanya menjadi pembelajar saja, kita tak
bisa menjadi agen perubahan dalam lingkungan.
Maka dari itu, dibutuhkannya aktivitas learn &
teach agar dapat saling mengingatkan satu sama lain untuk kemajuan.
Belajar saja tidak cukup, tapi juga perlu mengajarkan
karena dengan mengajarkan itu kita mendapat 2 ilmu. Mengapa? Jika kita belajar
kita hanya mendapat satu ilmu, dan jika kita mengajarkan kita mendapat dua
bahkan lebih ilmu yang tidak terduga.
Belajar
dan mengajar adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
belajar dan mengajar bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun, dan dengan
siapa pun. Tidak ada yang namanya BISA dan TIDAK BISA, yang ada hanyalah MAU
dan TIDAK MAU.

0 komentar:
Posting Komentar