Selasa, 11 Oktober 2016

Pendidikan Karakter dalam Keluarga

Edit Posted by with No comments
Keluarga dalam Penerapan Pendidikan Karakter

            Anak adalah pusat pendidikan dan pembelajaran dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak hendaknya berorientasi pada kebutuhan anak sebagai makhluk biopsikososialreligius serta menggunakan cara-cara yang sesuai dengan perkembangan anak, baik perkembangan fisik-biologisnya, perkembangan psikisnya, perkembangan sosial serta perkembangan religiusitasnya.
            Dalam perkembangannya, anak-anak, khususnya yang telah mencapai usia remaja, telah mempunyai sikap tertentu, pengetahuan tertentu, dan ketrampilan tertentu. Remaja bukan seperti gelas kosong yang dengan mudah dapat diisikan sesuatu. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang berbeda dalam pendidikan bagi remaja. Pendidikan bagi remaja hendaknya mengacu pada prinsip pendidikan orang dewasa. Belajar Pengalaman dalam Keluarga
            Salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran dalam keluarga adalah metode belajar pengalaman. memiliki manfaat sangat besar dalam pendidikan orang dewasa yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dalam hubungan antar manusia, perubahan perilaku, dan kerja sama dalam organisasi. Belajar dari pengalaman buatan  ini dianggap efektif apabila peserta didik menjalani proses menurut lingkaran yang disebut The Experiential Learning Cycle. Proses belajar yang didasarkan atas pengalaman terjadi menurut suatu pola yang bermula dari sebuah pengalaman, lalu berlanjut pada perenungan dan analisa mengenai makna pengalaman itu dan mengenai kelanjutannya. Dalam experiential learning, pengalaman diciptakan dalam suatu situasi belajar. Melalui pengalaman ini akan memberi orang pelajaran dan bahwa belajar dari pengalaman atau arti suatu pengalaman bergantung dari pengolahan oleh orang yang mengalami itu sendiri. Melalui proses pembelajaran yang difasiltasi oleh fasilitator pembelajaran yang profesional , orang itu akan menemukan sendiri pelajaran yang dapat ditarik dari pengalamannya .
            Melalui model ini individu dapat belajar secara utuh, yaitu melibatkan aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Model belajar pengalaman ini perlu dipertimbangkan sebagai model pembelajran non-tradisional. Hal ini mengingat kenyataan yang ada saat ini bahwa pembelajaran diasosikan dengan konsep sekolah, di ruang kelas, dosen/guru memberikan informasi dengan ceramah saja. Pembelajaran menjadi bersifa didaktis (bersifat instruktif, bergantung pada guru/dosen,  mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan), sehingga kesempatan individu untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing kurang dapat teraktualisasi.
            Melalui model belajar pengalaman individu dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya karena model belajar pengalaman bersifat aktif,self-directed, dan meliputi aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Melalui model belajar pengalaman, selain dapat meningkatkan kualitas memori, juga tepat untuk mengajarkan suatu ketrampilan, misalnya mengajarkan ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh empati, ketrampilan konseling, ketrampilan menggunakan komputer, ketrampiulan menyelesaikan masalah secara efektif, dsb.
            Belajar pengalaman dalam keluarga dapat diterapkan bagi semua anggota keluarga melalui kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk memberikan kemampuan berdisiplin dan bertanggung jawab, anggota keluarga dapat memilih sendiri pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dalam pelaksanaan tugas tersebut anggota keluarga memonitor sendiri pelaksanaannya serta mendapatkan umpan balik dari anggota keluarga yang lain. Misalnya, kakak memilih untuk tugas menyiram pot bunga maka ibu, bapak, dan adik dapat memberikan umpan balik atas kinerja kakak. Demikian juga untuk penanaman kebiasaan baik, misalnya: kejujuran, kerja keras, suka menolong, dilakukan melalui keteladan nyata dan umpan balik bersama seluruh anggota kelurga.
            Peran orang tua dalam pendidikan karakter adalah sebagai fasilitator. Orang tua bertugas merancang, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi hasil pendidikan karakter bagi seluruh anggota keluarga secara berkesinbambungan.


0 komentar:

Posting Komentar