Keluarga dalam Penerapan Pendidikan
Karakter
Anak adalah pusat pendidikan dan pembelajaran dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak hendaknya berorientasi pada kebutuhan anak sebagai makhluk biopsikososialreligius serta menggunakan cara-cara yang sesuai dengan perkembangan anak, baik perkembangan fisik-biologisnya, perkembangan psikisnya, perkembangan sosial serta perkembangan religiusitasnya.
Dalam perkembangannya, anak-anak, khususnya yang telah
mencapai usia remaja, telah mempunyai sikap tertentu, pengetahuan tertentu, dan
ketrampilan tertentu. Remaja bukan seperti gelas kosong yang dengan mudah dapat
diisikan sesuatu. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang berbeda dalam
pendidikan bagi remaja. Pendidikan bagi remaja hendaknya mengacu pada prinsip
pendidikan orang dewasa. Belajar
Pengalaman dalam Keluarga
Salah
satu metode pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran dalam keluarga adalah
metode belajar pengalaman. memiliki manfaat sangat besar dalam pendidikan orang
dewasa yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dalam hubungan antar manusia,
perubahan perilaku, dan kerja sama dalam organisasi. Belajar dari pengalaman
buatan ini dianggap efektif apabila peserta didik menjalani proses
menurut lingkaran yang disebut The Experiential Learning
Cycle. Proses belajar yang didasarkan atas pengalaman terjadi menurut
suatu pola yang bermula dari sebuah pengalaman, lalu berlanjut pada perenungan
dan analisa mengenai makna pengalaman itu dan mengenai kelanjutannya.
Dalam experiential learning, pengalaman diciptakan dalam suatu situasi
belajar. Melalui pengalaman ini akan memberi orang pelajaran dan bahwa belajar
dari pengalaman atau arti suatu pengalaman bergantung dari pengolahan oleh
orang yang mengalami itu sendiri. Melalui proses pembelajaran yang difasiltasi
oleh fasilitator pembelajaran yang profesional , orang itu akan menemukan
sendiri pelajaran yang dapat ditarik dari pengalamannya .
Melalui model ini individu dapat belajar secara utuh,
yaitu melibatkan aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Model belajar pengalaman
ini perlu dipertimbangkan sebagai model pembelajran non-tradisional. Hal ini
mengingat kenyataan yang ada saat ini bahwa pembelajaran diasosikan dengan
konsep sekolah, di ruang kelas, dosen/guru memberikan informasi dengan ceramah
saja. Pembelajaran menjadi bersifa didaktis (bersifat instruktif, bergantung
pada guru/dosen, mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan),
sehingga kesempatan individu untuk berkembang sesuai dengan potensi
masing-masing kurang dapat teraktualisasi.
Melalui
model belajar pengalaman individu dapat berkembang sesuai dengan potensi yang
dimilikinya karena model belajar pengalaman bersifat
aktif,self-directed, dan meliputi aspek kognisi, afeksi, dan konasi.
Melalui model belajar pengalaman, selain dapat meningkatkan kualitas memori,
juga tepat untuk mengajarkan suatu ketrampilan, misalnya mengajarkan
ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh empati, ketrampilan konseling,
ketrampilan menggunakan komputer, ketrampiulan menyelesaikan masalah secara
efektif, dsb.
Belajar
pengalaman dalam keluarga dapat diterapkan bagi semua anggota keluarga melalui
kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk memberikan kemampuan berdisiplin dan
bertanggung jawab, anggota keluarga dapat memilih sendiri pekerjaan rumah
tangga yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dalam pelaksanaan tugas
tersebut anggota keluarga memonitor sendiri pelaksanaannya serta mendapatkan
umpan balik dari anggota keluarga yang lain. Misalnya, kakak memilih untuk
tugas menyiram pot bunga maka ibu, bapak, dan adik dapat memberikan umpan balik
atas kinerja kakak. Demikian juga untuk penanaman kebiasaan baik, misalnya:
kejujuran, kerja keras, suka menolong, dilakukan melalui keteladan nyata dan
umpan balik bersama seluruh anggota kelurga.
Peran orang tua dalam pendidikan karakter adalah
sebagai fasilitator. Orang tua bertugas merancang, melaksanakan, memonitor, dan
mengevaluasi hasil pendidikan karakter bagi seluruh anggota keluarga secara
berkesinbambungan.
0 komentar:
Posting Komentar