Ayo Belajar
Praktis
Belajar praktis terpenting yang perlu kita pahami
dan terapkan adalah sikap antri. Antri ini memiliki dua bagian. Yang pertama
adalah antri fisik, yakni ketika membeli karcis, masuk ke pertunjukan atau
dalam kegiatan bersama lainnya. Budaya antri di dalam berbagai kegiatan bersama
adalah salah satu dasar terpenting dari perdamaian di antara manusia.
Antri yang kedua adalah antri dalam hidup. Tidak ada
orang yang kaya mendadak. Semua harus bekerja dan sabar antri untuk mencapai
tangga kesuksesan. Tindak memotong antrian untuk mencapai sukses dalam hidup
kerap bermuara pada cara-cara korup, seperti yang dilakukan oleh banyak
politikus kita di Indonesia.
Bentuk belajar praktis yang kedua adalah tepat
waktu. Orang perlu datang sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikannya.
Ketepatan waktu adalah tanda kedalaman pribadi orang yang memilikinya. Konsep
“jam karet”, yang berarti selalu terlambat, juga menandakan kedangkalan
kepribadian orang atau masyarakat yang memilikinya.
Tepat waktu juga berarti tepat pada dateline, ketika
bekerja. Jika saya bilang, bahwa pekerjaan akan selesai dua hari lagi, maka dua
hari kemudian, saya harus sudah menyerahkan pekerjaan itu. Kesetiaan pada
dateline akan menunjang kerja sama di dalam kelompok, guna mencapai hasil yang
diinginkan. Hal ini berlaku secara umum, mulai dari kesetiaan menyerahkan
pekerjaan rumah sesuai yang dijanjikan di sekolah atau di universitas, sampai
dengan kesetiaan kerja-kerja menteri di dalam kabinet pemerintahan, guna
mencapai target-target kerja yang telah ditetapkan dan dijanjikan sebelumnya.
Belajar praktis yang ketiga adalah mendengarkan.
Orang perlu belajar untuk berhenti berbicara, dan sungguh-sungguh mendengarkan
orang lain yang sedang berbicara. Seringkali, kita tidak mendengar. Kita hanya
mendengar apa yang kita inginkan, lalu kita pelintir, guna membenarkan
kepentingan kita. Pola semacam ini adalah akar dari segala bentuk
kesalahpahaman dan pertikaian.
Belajar untuk mendengarkan berarti belajar untuk
sungguh memahami kata dan maksud dari orang yang berbicara. Orang juga perlu
untuk mendengarkan sekaligus memahami konteks dari hal yang dibicarakan. Jika
tidak jelas, orang tidak boleh bertindak atau menjawab hanya berdasarkan
perkiraan. Orang perlu bertanya, supaya hal yang dimaksud bisa jelas, lalu ia
bisa memberikan tanggapan yang sesuai.
Pendidikan karakter bukanlah pendidikan agama. Tidak
ada gunanya membaca dan mengulang isi kitab suci, atau berdoa sampai
berbuih-buih, jika tidak ada “belajar praktis” di dalamnya. Pendidikan karakter
juga tidak boleh sibuk dengan konsep dosa. Menghafal jenis-jenis tindakan
berdosa tidak akan mengubah cara berpikir kita tentang dunia. Ini terbukti dari
para koruptor yang justru mengenyam begitu banyak pendidikan agama yang berisi
soal dosa dan tidak dosa.
Pendidikan juga tidak boleh sibuk dengan menghafal
berbagai rumus ataupun teori. Ujian juga tidak boleh hanya memuntahkan ulang
apa yang sudah dibaca dan didengar sebelumnya. Inilah kesesatan terbesar dalam
pendidikan kita di Indonesia. Menghafal teori metafisika Aristoteles atau
fisika nuklir tidak ada gunanya, jika orang tidak melakukan “belajar praktis”,
yakni antri, tepat waktu dan mendengarkan.
Ada tiga bentuk metode di dalam konsep belajar
praktis. Yang pertama dan yang terpenting adalah teladan. Guru yang mengajarkan
antri, tepat waktu dan mendengarkan juga harus menerapkan tiga hal itu dalam
hidup mereka. Ingatlah, bahwa anak mengikuti apa yang kita lakukan, dan bukan
apa yang kita katakan. Ini berlaku untuk orang tua, guru maupun perilaku
orang-orang di masyarakat. Keteladanan guru, orang tua dan orang-orang tua di
dalam masyarakat adalah kunci utama di dalam konsep belajar praktis.
Metode kedua adalah pembiasaan. Belajar praktis
bukan hanya diterangkan, lalu kemudian dilakukan sekali dalam ujian, lalu lulus.
Pola semacam ini tidak ada gunanya. Belajar praktis berarti belajar melalui
pembiasaan, yakni diterapkan dari hari ke hari, tanpa henti, dengan sikap
displin dan kesungguhan hati. Pada akhirnya, isi dari konsep belajar praktis
akan menjadi bagian utuh dari kepribadian orang.
Metode ketiga adalah ketegasan. Belajar praktis
tidak hanya menggunakan pikiran abstrak belaka, tetapi juga menggunakan gerak
tubuh yang nantinya terbentuk menjadi kebiasaan sehari-hari yang bersifat
otomatis. Segala pelanggaran harus diingatkan, misalnya jika orang tidak antri,
tidak tepat waktu atau hanya bicara, dan tidak mau mendengarkan. Ketika
pelanggaran dilakukan berulang kali tanpa alasan, maka hukuman yang pas layak
diberikan.
Percuma kita menguasai beragam teori kimia organik
dan anorganik, jika tidak memahami dan menerapkan konsep belajar praktis dalam
hidup kita. Percuma kita menguasai ilmu penerbangan roket dan fisika nuklir,
jika tidak tidak antri, tidak tepat waktu dan tidak mau mendengarkan orang
lain. Percuma kita menguasai seluruh teori filsafat dan ilmu pengetahuan
sepanjang sejarah manusia, jika kita melupakan isi dan prinsip dari belajar
praktis. Percuma kita memakai jubah dokter atau ilmuwan, atau bergelar doktor
dan professor, jika kita bertingkah seperti hewan yang tidak bisa antri, tidak
bisa tepat waktu dan tidak mau mendengarkan pihak lain.

0 komentar:
Posting Komentar