Guru “Pahlawan
Tanpa Tanda Jasa” adalah salah satu julukan yang dapat disematkan kepada sosok
guru. Julukan ini mengisyaratkan bahwa betapa besar peran dan jasa yang
dilakukan oleh guru selayaknya seorang pahlawan. Namun, penghargaan terhadap
guru nyatanya tidaklah sebanding dengan besarnya jasa yang telah diberikan.
Guru adalah sosok yang dengan tulus mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya
untuk mengajar dan mendidik siswa, sementara dari sisi finansial yang
didapatkan sangat jauh dari harapan. Gaji seorang guru rasanya terlalu jauh
untuk mencapai kesejahteraan hidup layak sebagaimana profesi lainnya. Hal
itulah kiranya menjadi salah satu yang melatarbelakangi mengapa guru disebut sebagai
pahlawan tanpa tanda jasa.
Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa
kehidupan ekonomi sebagian besar guru di Indonesia penuh dengan persoalan. Jika
kita mau meneliti kehidupan para guru, akan ditemukan fakta bahwa sebagian
besar guru telah “menyekolahkan”, atau menggadaikan SK-nya untuk meminjam uang
di Bank. Hal ini diamini oleh Dr. Abdul Adhim selaku salah satu kepala bidang
di kementerian Agama RI yang berkesempatan menyampaikan materi dalam workshop
“Redesain Kurikulum STAIN Pekalongan” tanggal 21-23 Oktober 2013. Dia
menyatakan bahwa rasanya tidak ditemukan ada PNS di Negeri ini (Indonesia) yang
tidak menyekolahkan SK-nya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan,
tidak jarang, ada seorang guru yang ketika awal bulan bukannya senang, tetapi
justru sedih karena gajinya nyaris habis dipotong untuk berbagai pinjaman. Awal
bulan yang seharusnya menjadi saat suka cita karena akan menerima gaji,
tidaklah dirasakannya.
Jika kondisi semacam ini masih terjadi, bagaimana
seorang guru dapat mengajar dengan penuh totalitas sedangkan “asap dapur” tidak
ada kepastian?. Secara logika tentunya terjadi sedikit kesulitan untuk mengajar
dengan penuh totalitas ketika seorang guru harus bergelut dengan keterbatasan
ekonomi. Ketika mengajar, guru tidak lagi berpikir dan mencurahkan segenap
energinya karena masih ada masalah dengan asap dapurnya tidak mengepul dengan
lancar, belum lagi anaknya harus membayar SPP, biaya listrik, air, dan
kebutuhan lain yang antri untuk dipenuhi setiap bulannya. Maka dari itu,
sebagaimana diberitakan, sebagian besar guru harus mencari tambahan penghasilan
lain di luar tugasnya mengajar. Ada yang harus mengajar di berbagai sekolah
dari pagi sampai malam. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, buruh tani,
bahkan yang ironis ada yang menjadi pemulung.
Kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru memang
masih kurang memperoleh perhatian optimal dari pemerintah. Hal ini tercermin
dari politik anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk guru dalam setiap
tahun yang masih jauh dari angka layak, apalagi ideal. Kesejahteraan guru
memang sangat dipengaruhi oleh kondisi moneter Indonesia yang belum stabil.
Akibatnya, target 20 persen anggaran negara untuk pendidikan belum bisa
terpenuhi. Selain itu, program sertifikasi guru yang dicetuskan untuk
meningkatkan profesionalitas dan mendongkrak kesejahteraan pendidik juga belum
terbukti secara merata (Ngainun Naim, 2009:3).
Apapun yang terjadi, itulah potret sebagian dari guru
di Indonesia. Di tengah himpitan hidup yang kian sesak, dan kebutuhan hidup
yang terus membumbung tinggi, mereka harus menjalankan tugas mulia dan berat,
yaitu harus mencerdasakan para siswanya. Pada saat mereka berjuang mencerdaskan
para siswanya, belum tentu anaknya sendiri mampu mengenyam pendidikan secara
layak. Banyak anak guru yang tidak dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat
sarjana. Bukan rahasia lagi bahwa kebutuhan biaya kuliah sekarang ini melangit.
Apalagi pada jurusan-jurusan tertentu, biayanya hampir pasti tidak dapat
dijangkau oleh gaji guru. Jika seorang guru memiliki tiga anak yang harus
kuliah, paling tidak dia harus menyiapkan uang sekitar 2,5 juta per bulannya.
Mengandalkan dari gaji guru saja tentu tidak cukup untuk biaya sebanyak itu.
Oleh karenanya, kuliah di lembaga pendidikan berkualitas bagi anak guru
tampaknya hanya akan menjadi cita-cita saja jika tidak ada faktor-faktor lain
yang mendukung terhadap pembiayaannya. Misalnya, selain sebagai guru, ada
tambahan pendapatan lain yang mendukung.
Mengingat begitu besarnya peran guru seyogianya diimbangi
dengan penghargaan yang diberikan kepadanya. Walaupun kenyataannya menunjukkan
bahwa secara finansial profesi guru belumlah mampu mengantarkan kepada
kehidupan yang sejahtera. Namun demikian, bukan berarti hal ini mengurangi
penghargaan yang selayaknya diberikan. Bahkan di era sekarang sumber belajar
telah berkembang dan melimpah sedemikian pesat, peran guru sebagai sumber
belajar utama tidaklah dapat tergantikan. Bukan hal yang terlalu berlebihan
jika guru harus dihormati. Bahkan, Imam al-Ghazali pun menulis dalam kitabnya Ayyuha
al-Walad dengan penuh empatik tentang guru:
“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan
ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat
matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat
minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati orang lain, dan ia sendiri pun
harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih
pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab
dan sopan santun dalam tugasnya ini” (A. Mujab Mahalli, 1991:55)
Oleh : Potret Guru: Realitas Adanya Kesenjangan

0 komentar:
Posting Komentar