Sabtu, 26 November 2016

Guru Untuk Mencerdaskan Bangsa

Edit Posted by with No comments


PROGRESIVITAS KUALITAS GURU DALAM UPAYA MENCERDASKAN BANGSA



 Guru “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” adalah salah satu julukan yang dapat disematkan kepada sosok guru. Julukan ini mengisyaratkan bahwa betapa besar peran dan jasa yang dilakukan oleh guru selayaknya seorang pahlawan. Namun, penghargaan terhadap guru nyatanya tidaklah sebanding dengan besarnya jasa yang telah diberikan. Guru adalah sosok yang dengan tulus mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya untuk mengajar dan mendidik siswa, sementara dari sisi finansial yang didapatkan sangat jauh dari harapan. Gaji seorang guru rasanya terlalu jauh untuk mencapai kesejahteraan hidup layak sebagaimana profesi lainnya. Hal itulah kiranya menjadi salah satu yang melatarbelakangi mengapa guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi sebagian besar guru di Indonesia penuh dengan persoalan. Jika kita mau meneliti kehidupan para guru, akan ditemukan fakta bahwa sebagian besar guru telah “menyekolahkan”, atau menggadaikan SK-nya untuk meminjam uang di Bank. Hal ini diamini oleh Dr. Abdul Adhim selaku salah satu kepala bidang di kementerian Agama RI yang berkesempatan menyampaikan materi dalam workshop “Redesain Kurikulum STAIN Pekalongan” tanggal 21-23 Oktober 2013. Dia menyatakan bahwa rasanya tidak ditemukan ada PNS di Negeri ini (Indonesia) yang tidak menyekolahkan SK-nya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, tidak jarang, ada seorang guru yang ketika awal bulan bukannya senang, tetapi justru sedih karena gajinya nyaris habis dipotong untuk berbagai pinjaman. Awal bulan yang seharusnya menjadi saat suka cita karena akan menerima gaji, tidaklah dirasakannya.
Jika kondisi semacam ini masih terjadi, bagaimana seorang guru dapat mengajar dengan penuh totalitas sedangkan “asap dapur” tidak ada kepastian?. Secara logika tentunya terjadi sedikit kesulitan untuk mengajar dengan penuh totalitas ketika seorang guru harus bergelut dengan keterbatasan ekonomi. Ketika mengajar, guru tidak lagi berpikir dan mencurahkan segenap energinya karena masih ada masalah dengan asap dapurnya tidak mengepul dengan lancar, belum lagi anaknya harus membayar SPP, biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang antri untuk dipenuhi setiap bulannya. Maka dari itu, sebagaimana diberitakan, sebagian besar guru harus mencari tambahan penghasilan lain di luar tugasnya mengajar. Ada yang harus mengajar di berbagai sekolah dari pagi sampai malam. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, buruh tani, bahkan yang ironis ada yang menjadi pemulung.
Kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru memang masih kurang memperoleh perhatian optimal dari pemerintah. Hal ini tercermin dari politik anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk guru dalam setiap tahun yang masih jauh dari angka layak, apalagi ideal. Kesejahteraan guru memang sangat dipengaruhi oleh kondisi moneter Indonesia yang belum stabil. Akibatnya, target 20 persen anggaran negara untuk pendidikan belum bisa terpenuhi. Selain itu, program sertifikasi guru yang dicetuskan untuk meningkatkan profesionalitas dan mendongkrak kesejahteraan pendidik juga belum terbukti secara merata (Ngainun Naim, 2009:3).
Apapun yang terjadi, itulah potret sebagian dari guru di Indonesia. Di tengah himpitan hidup yang kian sesak, dan kebutuhan hidup yang terus membumbung tinggi, mereka harus menjalankan tugas mulia dan berat, yaitu harus mencerdasakan para siswanya. Pada saat mereka berjuang mencerdaskan para siswanya, belum tentu anaknya sendiri mampu mengenyam pendidikan secara layak. Banyak anak guru yang tidak dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat sarjana. Bukan rahasia lagi bahwa kebutuhan biaya kuliah sekarang ini melangit. Apalagi pada jurusan-jurusan tertentu, biayanya hampir pasti tidak dapat dijangkau oleh gaji guru. Jika seorang guru memiliki tiga anak yang harus kuliah, paling tidak dia harus menyiapkan uang sekitar 2,5 juta per bulannya. Mengandalkan dari gaji guru saja tentu tidak cukup untuk biaya sebanyak itu. Oleh karenanya, kuliah di lembaga pendidikan berkualitas bagi anak guru tampaknya hanya akan menjadi cita-cita saja jika tidak ada faktor-faktor lain yang mendukung terhadap pembiayaannya. Misalnya, selain sebagai guru, ada tambahan pendapatan lain yang mendukung.
Mengingat begitu besarnya peran guru seyogianya diimbangi dengan penghargaan yang diberikan kepadanya. Walaupun kenyataannya menunjukkan bahwa secara finansial profesi guru belumlah mampu mengantarkan kepada kehidupan yang sejahtera. Namun demikian, bukan berarti hal ini mengurangi penghargaan yang selayaknya diberikan. Bahkan di era sekarang sumber belajar telah berkembang dan melimpah sedemikian pesat, peran guru sebagai sumber belajar utama tidaklah dapat tergantikan. Bukan hal yang terlalu berlebihan jika guru harus dihormati. Bahkan, Imam al-Ghazali pun menulis dalam kitabnya Ayyuha al-Walad dengan penuh empatik tentang guru:
“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati orang lain, dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini” (A. Mujab Mahalli, 1991:55)
 Oleh : Potret Guru: Realitas Adanya Kesenjangan

0 komentar:

Posting Komentar