Terlepas dari banyaknya persoalan yang dihadapi guru
dalam hidup kesehariannya, guru tetaplah sosok penting yang cukup menentukan
dalam proses pembelajaran. Walaupun sekarang ini ada berbagai sumber belajar
alternatif yang lebih kaya, seperti buku, jurnal, majalah, internet, maupun
sumber belajar lainnya, guru tetap menjadi kunci untuk optimalisasi
sumber-sumber belajar yang ada. Guru tetap menjadi sumber belajar yang utama.
Tanpa kehadiran guru, proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan secara
maksimal. Orang mungkin dapat belajar mandiri (autodidak) secara maksimal
sehingga kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu. Akan tetapi,
autodidak tetap akan berbeda hasilnya dengan mereka yang juga sama-sama
berusaha dengan maksimal di bawah bimbingan guru.
Guru atau pendidik merupakan sosok yang seharusnya
mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh ilmu yang
dimilikinya dalam proses pembelajaran dalam makna yang luas, toleran, dan
senantiasa berusaha menjadikan siswanya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Secara prinsip, mereka yang disebut sebagai guru bukanlah hanya mereka yang
memiliki kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh lewat jenjang
pendidikan di perguruan tinggi saja, tetapi yang terpenting adalah mereka yang
mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai
dalam matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan
siswa cerdas dalam aspek intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa
mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan
siswa terampil dalam melaksanakan aktifitas secara efektif dan efisien, serta
tepat guna. Guru tidaklah cerdas untuk dirinya sendiri namun dapat menyebarkan
virus kecerdasan untuk orang lain (anak didiknya).
Di sinilah letak pentingnya peranan seorang guru.
Sehingga bukan hal yang terlalu berlebihan jika ada penilaian bahwa berhasil
atau tidaknya proses pendidikan tergantung kepada peranan guru. Walaupun peranannya
sangat menentukan, namun harus disadari bahwasanya guru bukanlah satu-satunya
penentu keberhasilan atau kegagalan pembelajaran. Sebab, keberhasilan atau
kegagalan pembelajaran dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berkaitan
antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, guru harus menghindari sikap
merasa sebagai pihak paling berjasa dan paling menentukan dalam keberhasilan
pembelajaran. Begitulah kehebatan dan pengaruh guru pada sebuah lembaga di mana
ia bernaung. Hanry Adam, seorang sejarahwan terkemuka, sebagaimana dikutip M.
Nurdin (2004:32), mengatakan: A teacher effect eternity, he can never tell
where his influence stops (Seorang guru itu berdampak abadi, ia tidak
pernah tahu dimana pengaruhnya itu berhenti).
Dalam konsep pendidikan tradisional Islam, menurut
Piet A. Sahertian, posisi guru sangatlah terhormat. Guru diposisikan sebagai
orang yang 'alim, wara', shalih, dan sebagai uswah sehingga guru
dituntut juga beramal shaleh sebagai aktualisasi dari keilmuan yang
dimilikinya. Sebagai guru, ia juga bertanggung jawab kepada siswanya, tidak
saja ketika proses pembelajaran berakhir, bahkan sampai di akhirat. Oleh karena
itu, wajar jika mereka diposisikan sebagai orang-orang penting dan mempunyai
pengaruh besar pada masanya, dan seolah-olah memegang kunci keselamatan rohani
dalam masyarakat (Ngainun Naim, 2009:5).
Seiring perkembangan zaman, posisi dan peran guru juga
mengalami perubahan. Otoritas guru semakin menyusut di tengah gerusan perubahan
yang semakin kompleks. Guru kini menghadapi tantangan besar yang semakin hari
semakin berat. Hal ini menuntut seorang guru untuk senantiasa melakukan
berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas peribadi maupun sosialnya. Tanpa
usaha semacam ini, posisi dan peranan guru akan semakin terkikis.
Jika seorang guru senantiasa memiliki spirit yang kuat
untuk meningkatkan kualitas pribadi maupun sosialnya, maka keberhasilan dalam
menjalankan tugasnya akan lebih cepat untuk tercapai, yaitu mampu melahirkan
para siswa yang memiliki budi pekerti luhur, memiliki karakter sosial dan
profesional sebagaimana yang menjadi tujuan fundamental dari pendidikan.

0 komentar:
Posting Komentar