Sabtu, 26 November 2016

Guru untuk Generasi Berkualitas

Edit Posted by with No comments


Arti Penting Guru dalam Pembentukan Generasi Berkualitas



Terlepas dari banyaknya persoalan yang dihadapi guru dalam hidup kesehariannya, guru tetaplah sosok penting yang cukup menentukan dalam proses pembelajaran. Walaupun sekarang ini ada berbagai sumber belajar alternatif yang lebih kaya, seperti buku, jurnal, majalah, internet, maupun sumber belajar lainnya, guru tetap menjadi kunci untuk optimalisasi sumber-sumber belajar yang ada. Guru tetap menjadi sumber belajar yang utama. Tanpa kehadiran guru, proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan secara maksimal. Orang mungkin dapat belajar mandiri (autodidak) secara maksimal sehingga kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu. Akan tetapi, autodidak tetap akan berbeda hasilnya dengan mereka yang juga sama-sama berusaha dengan maksimal di bawah bimbingan guru.
Guru atau pendidik merupakan sosok yang seharusnya mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh ilmu yang dimilikinya dalam proses pembelajaran dalam makna yang luas, toleran, dan senantiasa berusaha menjadikan siswanya memiliki kehidupan yang lebih baik. Secara prinsip, mereka yang disebut sebagai guru bukanlah hanya mereka yang memiliki kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh lewat jenjang pendidikan di perguruan tinggi saja, tetapi yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan siswa cerdas dalam aspek intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil dalam melaksanakan aktifitas secara efektif dan efisien, serta tepat guna. Guru tidaklah cerdas untuk dirinya sendiri namun dapat menyebarkan virus kecerdasan untuk orang lain (anak didiknya).
Di sinilah letak pentingnya peranan seorang guru. Sehingga bukan hal yang terlalu berlebihan jika ada penilaian bahwa berhasil atau tidaknya proses pendidikan tergantung kepada peranan guru. Walaupun peranannya sangat menentukan, namun harus disadari bahwasanya guru bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan atau kegagalan pembelajaran. Sebab, keberhasilan atau kegagalan pembelajaran dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, guru harus menghindari sikap merasa sebagai pihak paling berjasa dan paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran. Begitulah kehebatan dan pengaruh guru pada sebuah lembaga di mana ia bernaung. Hanry Adam, seorang sejarahwan terkemuka, sebagaimana dikutip M. Nurdin (2004:32), mengatakan: A teacher effect eternity, he can never tell where his influence stops (Seorang guru itu berdampak abadi, ia tidak pernah tahu dimana pengaruhnya itu berhenti).
Dalam konsep pendidikan tradisional Islam, menurut Piet A. Sahertian, posisi guru sangatlah terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang 'alim, wara', shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga beramal shaleh sebagai aktualisasi dari keilmuan yang dimilikinya. Sebagai guru, ia juga bertanggung jawab kepada siswanya, tidak saja ketika proses pembelajaran berakhir, bahkan sampai di akhirat. Oleh karena itu, wajar jika mereka diposisikan sebagai orang-orang penting dan mempunyai pengaruh besar pada masanya, dan seolah-olah memegang kunci keselamatan rohani dalam masyarakat (Ngainun Naim, 2009:5).
Seiring perkembangan zaman, posisi dan peran guru juga mengalami perubahan. Otoritas guru semakin menyusut di tengah gerusan perubahan yang semakin kompleks. Guru kini menghadapi tantangan besar yang semakin hari semakin berat. Hal ini menuntut seorang guru untuk senantiasa melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas peribadi maupun sosialnya. Tanpa usaha semacam ini, posisi dan peranan guru akan semakin terkikis.
Jika seorang guru senantiasa memiliki spirit yang kuat untuk meningkatkan kualitas pribadi maupun sosialnya, maka keberhasilan dalam menjalankan tugasnya akan lebih cepat untuk tercapai, yaitu mampu melahirkan para siswa yang memiliki budi pekerti luhur, memiliki karakter sosial dan profesional sebagaimana yang menjadi tujuan fundamental dari pendidikan.

0 komentar:

Posting Komentar