Rahasia Belajar Filsafat Biar Gak Stres
Apa hal yang di dalam hidup
ini tidak bernilai filosofis? Tidak ada. Lalu mengapa orang-orang ketika
mendengar kata filsafat mukanya langsung mengkerut? Adakah yang salah ketika
sesuatu hal dihubungkan dengan filsafat? Saya rasa tidak tepat menanggapi hal
demikian dengan asumsi-asumsi yang salah tentang filsafat. Banyak yang bilang
kalau belajar bisa buat orang jadi gila. Siapa yang bilang? Padahal belajar
filsafat itu memang tidak gampang, oleh karenanya harus matang dalam berpikir
dan bertindak.
Bicara soal filsafat dengan cara yang umum
akan menimbulkan kesalahpahaman. Ada orang yang terbiasa dengan logika umum,
namun ada pula yang memang paham dengan logika yang khusus. Persoalan ketakutan
belajar filsafat juga terpengaruh oleh adanya tuntutan ideologi yang dianut.
Beberapa paham secara tegas menolak dan bahkan mengkafirkan hal-hal yang berbau
filsafat. Meyedihkan rasanya apabila hal demikian menjadi keterbatasan orang
mengenal induk dari pengetahun ini. Padahal kalau kita menyoroti kemajuan
sebuah bangsa atau Negara di laur Indonesia, latar belakang maju dan kokohnya
sebuah Negara besar tersebut tak lepas dari pengaruh filsafat yang mereka
bangun. Lalu jika itu jadi hal penting, timbul pertanyaan, Indonesia tidak akan
maju-maju dong? Ya bisa jadi, namun tidak memastikan itu juga akan terjadi.
Tetapi paling tidak kita bisa melihat bahwa kemajuan barat itu pada dasarnya
berporos pada filsafat. Dan kalau belajar sejarah filsafat barat, kita akan
menemukan banyak dari mereka adalah promotor munculnya hal-hal baru seperti
beberapa kemajuan yang bisa kita rasakan sekarang. Ketika saya mengenal
filsafat, saya memang dibuat pusing tujuh keliling, terutama dengan
istilah-istilah.
Tapi untungnya para dosen
yang dihadirkan adalah orang-orang yang paham betul dunia filsafat, jadi bisa
mengarahkan dengan penjelasan yang sederhana. Setelah dari sana, saya paham
bahwa kebanyak orang belajar filsafat salah dalam memahami karena terjebak oleh
istilah. Ini dia pelaku yang bersembunyi di balik keresahan orang belajar
filsafat. Di kampus, saya didorong untuk belajar logika khusus agar bisa
memahami pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh para filosof terdahulu. Dalam
hal ini kami sebagai mahasiwa ditutut agar merujuk pada teks aslinya sehingga
tidak tercampur oleh argumentasi orang lain. Kemudian setelah belajar logika,
kami juga diajarkan untuk mengetahui sisi-sisi kelemahan pernyataan para
filosof dengan melihat orang-orang yang melakukan kritikan terhadap filosof
lainnya sehingga akan memuncul keterbukaan dan pemahaman baru terhadap yang
mereka sampaikan. Dan terakhir adalah sebaiknya jika anda belajar filsafat,
sangat disarankan unutk banyak bertanya kepada para ahli dalam bidangnya supaya
tidak masuk dalam kesalahan berpikir. Lebih-lebih lagi kebingungan itu
disampaikan kepada banyak orang, kan bisa berabe.
Berikut hal-hal mendasar
untuk belajar filsafat; a.Pendekatan Historis dengan variasinya. Metode ini
dipandangan sangat baik bagi pemula karena pembaca akan dituntun untuk mengenal
pemikiran para filosf terdahulu. Selain itu pembaca akan tahu latar belakang
secara kronologis terhadap sebuah pemikiran. Contoh pemanfaat pendekatan
historis yang baik ialah Jostein Gaarder, Sophie's World. b.Pendekatan
Metodologis. Cara ini dianggap penting karena apabila ingin memahami filsafat
dengan cara berfilsafat pula. Dengan metode ini, beragam metode berfilsafat
ditimbang-timbang, kemudian kalau ditemukan metode yang terbaik kemudian
dipilih sebagai metode. Contoh pemakai pendekatan metodologis yang baik ialah
Mark B. Woodhouse, A Preface to Philosophy. c.Pendekatan Analitis dengan
beragam variasinya. Metode ini memandang bahwa tugas utama pengantar filsafat
adalah menjelaskan unsur-unsur filsafat. Dalam hal ini, filsafat dijelaskan
secara sistematis dan diterangkan segamblang-gamblangnya agar mudah dipahami.
Contoh pengguna pendekatan analitis yang baik ialah Louis O. Kattsoff, Elements
of Philosophy. d.Pendekatan Eksistensial Metode ini memandang bahwa untuk
menjelaskan filsafat ialah dengan memperkenalkan jalan-hidup filosofis tanpa
terbelenggu dengan sistematikanya. Dalam pendekatan ini, tema-teman pokok
filsafat didalami agar pembaca dengan sendirinya memahami gambaran tentang
filsafat. Contoh penerap pendekatan eksistensial yang baik ialah A.C. Ewing,
The Fundamental Questions of Philosophy. e.Pendekatan terpadu. Metode ini
mensintesis berbagai pendekatan sekaligus dalam satu buku saja. Contoh pelaku
pendekatan terpadu yang baik ialah Stephen Palmquist, The Tree of Philosophy.
Pada dasarnya metode-metode yang disebutkan di atas memiliki keunggulan dan
kelemahannya masing-masing. Tergantung metode mana yang dianggap lebih tepat,
cocok dan sesuai dengan pembaca. Sekiranya tidak cocok dari kelima hal
demikian, maka selanjutnya pembaca bisa belajar langsung pada yang ahli. Baru
kemudian mengenali sekiranya mana metode yang tepat guna. Belajar filsafat
salah besar apabila dikatakan bisa menjerumuskan seseorang pada jalan yang
salah. Malah saya ingin mengatakan bahwa setelah belajar filsafat pikiran saya
lebih terbuka. Saya bisa memahami satu sama lain di antara kehidupan kita ini.
Perbedaan yang terjadi dalam filsafat itu bukan sebuah masalah, jadi tak hayal
apabila orang-orang yang belajar filsafat dengan baik cendrung tidak gegabah
dalam bertindak. Dan menurut saya apabila setiap orang dapat memahami filsafat,
kekerasan dalam hal keyakinan dan ideologi tidak akan lagi menjadi permasalahan
yang picik di negeri ini.

0 komentar:
Posting Komentar