Sabtu, 26 November 2016

Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Edit Posted by with No comments


Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan
Secara alamiah, kita tahu, bahwa kita hidup di masa kini. Yang ada adalah masa kini. Masa lalu tidaklah sungguh ada, karena ia hanya sebentuk ingatan atas peristiwa yang tak lagi ada. Masa depan juga tidak sungguh ada, karena ia hanya terbentuk dari harapan dan bayangan semata. Jadi, jika dipikirkan secara tepat dan alamiah, yang ada hanyalah masa kini.
Namun, seringkali karena terbiasa, kita melihat masa lalu sebagai kenyataan. Kita mengingat apa yang telah lalu secara berlebihan, sehingga itu membuat kita cemas. Penyesalan dan kemarahan atas apa yang telah lalu pun muncul. Pada titik ini, kita lupa, bahwa kita memikirkan apa yang tidak ada. Kita pun akibatnya membuang-buang energi percuma, serta menciptakan penderitaan tanpa alasan untuk diri kita sendiri.
Kita juga terbiasa terbiasa berpikir tentang masa depan. Kita terpaku pada rencana dan ambisi. Kita mengira, bahwa rencana dan ambisi adalah sesuatu yang nyata. Kita pun lupa, bahwa keduanya tidaklah sungguh ada, melainkan hanya sekedar bayangan semata.
Jika yang ada adalah masa kini, maka waktu pun menjadi tidak relevan bukan? Pada titik ini, saya sepakat dengan konsep aku-waktu. Keduanya adalah satu. Makna waktu yang sejati amat tergantung pada cara berpikir yang kita gunakan dalam hidup.
Ketika kita memilih untuk dibebani masa lalu, maka masa kini akan lenyap, dan kita akan hidup sepenuhnya dalam penindasan masa lalu. Ketika kita memilih untuk dibebani oleh ambisi dan rencana masa depan, maka kita juga akan kehilangan masa kini, dan hidup dalam tegangan kecemasan terus menerus. Keduanya adalah cara berpikir yang menciptakan penderitaan, dan membuang banyak sekali energi. Namun, keduanya bisa dengan mudah dihindari.
Caranya adalah dengan menjadi alamiah. Secara alamiah, kita tahu, bahwa yang sungguh-sungguh nyata dan ada adalah masa kini. Jadi, mengapa sibuk memikirkan masa lalu dan masa depan? Lakukan apa yang terbaik disini dan saat ini, tanpa beban masa lalu, tanpa ambisi akan masa depan.
Inilah kebijaksanaan tertinggi. Ketika orang bisa mengakar pada masa kini dan sini, ia hidup dengan ketenangan batin yang dalam. Ia punya ingatan akan masa lalu, tetapi tidak dijajah olehnya. Ia punya harapan akan masa depan, tetapi tidak hidup di dalam bayang-bayangnya.
Waktu adalah aku. Aku adalah waktu. Keduanya sama dan tak terpisahkan. Pikiranku tak bisa terpisahkan dari waktu, dan waktu adalah persepsi dari pikiranku sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kondisi pikiranku?


Guru Untuk Mencerdaskan Bangsa

Edit Posted by with No comments


PROGRESIVITAS KUALITAS GURU DALAM UPAYA MENCERDASKAN BANGSA



 Guru “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” adalah salah satu julukan yang dapat disematkan kepada sosok guru. Julukan ini mengisyaratkan bahwa betapa besar peran dan jasa yang dilakukan oleh guru selayaknya seorang pahlawan. Namun, penghargaan terhadap guru nyatanya tidaklah sebanding dengan besarnya jasa yang telah diberikan. Guru adalah sosok yang dengan tulus mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya untuk mengajar dan mendidik siswa, sementara dari sisi finansial yang didapatkan sangat jauh dari harapan. Gaji seorang guru rasanya terlalu jauh untuk mencapai kesejahteraan hidup layak sebagaimana profesi lainnya. Hal itulah kiranya menjadi salah satu yang melatarbelakangi mengapa guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi sebagian besar guru di Indonesia penuh dengan persoalan. Jika kita mau meneliti kehidupan para guru, akan ditemukan fakta bahwa sebagian besar guru telah “menyekolahkan”, atau menggadaikan SK-nya untuk meminjam uang di Bank. Hal ini diamini oleh Dr. Abdul Adhim selaku salah satu kepala bidang di kementerian Agama RI yang berkesempatan menyampaikan materi dalam workshop “Redesain Kurikulum STAIN Pekalongan” tanggal 21-23 Oktober 2013. Dia menyatakan bahwa rasanya tidak ditemukan ada PNS di Negeri ini (Indonesia) yang tidak menyekolahkan SK-nya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, tidak jarang, ada seorang guru yang ketika awal bulan bukannya senang, tetapi justru sedih karena gajinya nyaris habis dipotong untuk berbagai pinjaman. Awal bulan yang seharusnya menjadi saat suka cita karena akan menerima gaji, tidaklah dirasakannya.
Jika kondisi semacam ini masih terjadi, bagaimana seorang guru dapat mengajar dengan penuh totalitas sedangkan “asap dapur” tidak ada kepastian?. Secara logika tentunya terjadi sedikit kesulitan untuk mengajar dengan penuh totalitas ketika seorang guru harus bergelut dengan keterbatasan ekonomi. Ketika mengajar, guru tidak lagi berpikir dan mencurahkan segenap energinya karena masih ada masalah dengan asap dapurnya tidak mengepul dengan lancar, belum lagi anaknya harus membayar SPP, biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang antri untuk dipenuhi setiap bulannya. Maka dari itu, sebagaimana diberitakan, sebagian besar guru harus mencari tambahan penghasilan lain di luar tugasnya mengajar. Ada yang harus mengajar di berbagai sekolah dari pagi sampai malam. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, buruh tani, bahkan yang ironis ada yang menjadi pemulung.
Kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru memang masih kurang memperoleh perhatian optimal dari pemerintah. Hal ini tercermin dari politik anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk guru dalam setiap tahun yang masih jauh dari angka layak, apalagi ideal. Kesejahteraan guru memang sangat dipengaruhi oleh kondisi moneter Indonesia yang belum stabil. Akibatnya, target 20 persen anggaran negara untuk pendidikan belum bisa terpenuhi. Selain itu, program sertifikasi guru yang dicetuskan untuk meningkatkan profesionalitas dan mendongkrak kesejahteraan pendidik juga belum terbukti secara merata (Ngainun Naim, 2009:3).
Apapun yang terjadi, itulah potret sebagian dari guru di Indonesia. Di tengah himpitan hidup yang kian sesak, dan kebutuhan hidup yang terus membumbung tinggi, mereka harus menjalankan tugas mulia dan berat, yaitu harus mencerdasakan para siswanya. Pada saat mereka berjuang mencerdaskan para siswanya, belum tentu anaknya sendiri mampu mengenyam pendidikan secara layak. Banyak anak guru yang tidak dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat sarjana. Bukan rahasia lagi bahwa kebutuhan biaya kuliah sekarang ini melangit. Apalagi pada jurusan-jurusan tertentu, biayanya hampir pasti tidak dapat dijangkau oleh gaji guru. Jika seorang guru memiliki tiga anak yang harus kuliah, paling tidak dia harus menyiapkan uang sekitar 2,5 juta per bulannya. Mengandalkan dari gaji guru saja tentu tidak cukup untuk biaya sebanyak itu. Oleh karenanya, kuliah di lembaga pendidikan berkualitas bagi anak guru tampaknya hanya akan menjadi cita-cita saja jika tidak ada faktor-faktor lain yang mendukung terhadap pembiayaannya. Misalnya, selain sebagai guru, ada tambahan pendapatan lain yang mendukung.
Mengingat begitu besarnya peran guru seyogianya diimbangi dengan penghargaan yang diberikan kepadanya. Walaupun kenyataannya menunjukkan bahwa secara finansial profesi guru belumlah mampu mengantarkan kepada kehidupan yang sejahtera. Namun demikian, bukan berarti hal ini mengurangi penghargaan yang selayaknya diberikan. Bahkan di era sekarang sumber belajar telah berkembang dan melimpah sedemikian pesat, peran guru sebagai sumber belajar utama tidaklah dapat tergantikan. Bukan hal yang terlalu berlebihan jika guru harus dihormati. Bahkan, Imam al-Ghazali pun menulis dalam kitabnya Ayyuha al-Walad dengan penuh empatik tentang guru:
“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati orang lain, dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini” (A. Mujab Mahalli, 1991:55)
 Oleh : Potret Guru: Realitas Adanya Kesenjangan

Ayo Belajar Praktis

Edit Posted by with No comments


Ayo Belajar Praktis



Belajar praktis terpenting yang perlu kita pahami dan terapkan adalah sikap antri. Antri ini memiliki dua bagian. Yang pertama adalah antri fisik, yakni ketika membeli karcis, masuk ke pertunjukan atau dalam kegiatan bersama lainnya. Budaya antri di dalam berbagai kegiatan bersama adalah salah satu dasar terpenting dari perdamaian di antara manusia.
Antri yang kedua adalah antri dalam hidup. Tidak ada orang yang kaya mendadak. Semua harus bekerja dan sabar antri untuk mencapai tangga kesuksesan. Tindak memotong antrian untuk mencapai sukses dalam hidup kerap bermuara pada cara-cara korup, seperti yang dilakukan oleh banyak politikus kita di Indonesia.
Bentuk belajar praktis yang kedua adalah tepat waktu. Orang perlu datang sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikannya. Ketepatan waktu adalah tanda kedalaman pribadi orang yang memilikinya. Konsep “jam karet”, yang berarti selalu terlambat, juga menandakan kedangkalan kepribadian orang atau masyarakat yang memilikinya.
Tepat waktu juga berarti tepat pada dateline, ketika bekerja. Jika saya bilang, bahwa pekerjaan akan selesai dua hari lagi, maka dua hari kemudian, saya harus sudah menyerahkan pekerjaan itu. Kesetiaan pada dateline akan menunjang kerja sama di dalam kelompok, guna mencapai hasil yang diinginkan. Hal ini berlaku secara umum, mulai dari kesetiaan menyerahkan pekerjaan rumah sesuai yang dijanjikan di sekolah atau di universitas, sampai dengan kesetiaan kerja-kerja menteri di dalam kabinet pemerintahan, guna mencapai target-target kerja yang telah ditetapkan dan dijanjikan sebelumnya.
Belajar praktis yang ketiga adalah mendengarkan. Orang perlu belajar untuk berhenti berbicara, dan sungguh-sungguh mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Seringkali, kita tidak mendengar. Kita hanya mendengar apa yang kita inginkan, lalu kita pelintir, guna membenarkan kepentingan kita. Pola semacam ini adalah akar dari segala bentuk kesalahpahaman dan pertikaian.
Belajar untuk mendengarkan berarti belajar untuk sungguh memahami kata dan maksud dari orang yang berbicara. Orang juga perlu untuk mendengarkan sekaligus memahami konteks dari hal yang dibicarakan. Jika tidak jelas, orang tidak boleh bertindak atau menjawab hanya berdasarkan perkiraan. Orang perlu bertanya, supaya hal yang dimaksud bisa jelas, lalu ia bisa memberikan tanggapan yang sesuai.
Pendidikan karakter bukanlah pendidikan agama. Tidak ada gunanya membaca dan mengulang isi kitab suci, atau berdoa sampai berbuih-buih, jika tidak ada “belajar praktis” di dalamnya. Pendidikan karakter juga tidak boleh sibuk dengan konsep dosa. Menghafal jenis-jenis tindakan berdosa tidak akan mengubah cara berpikir kita tentang dunia. Ini terbukti dari para koruptor yang justru mengenyam begitu banyak pendidikan agama yang berisi soal dosa dan tidak dosa.
Pendidikan juga tidak boleh sibuk dengan menghafal berbagai rumus ataupun teori. Ujian juga tidak boleh hanya memuntahkan ulang apa yang sudah dibaca dan didengar sebelumnya. Inilah kesesatan terbesar dalam pendidikan kita di Indonesia. Menghafal teori metafisika Aristoteles atau fisika nuklir tidak ada gunanya, jika orang tidak melakukan “belajar praktis”, yakni antri, tepat waktu dan mendengarkan.
Ada tiga bentuk metode di dalam konsep belajar praktis. Yang pertama dan yang terpenting adalah teladan. Guru yang mengajarkan antri, tepat waktu dan mendengarkan juga harus menerapkan tiga hal itu dalam hidup mereka. Ingatlah, bahwa anak mengikuti apa yang kita lakukan, dan bukan apa yang kita katakan. Ini berlaku untuk orang tua, guru maupun perilaku orang-orang di masyarakat. Keteladanan guru, orang tua dan orang-orang tua di dalam masyarakat adalah kunci utama di dalam konsep belajar praktis.
Metode kedua adalah pembiasaan. Belajar praktis bukan hanya diterangkan, lalu kemudian dilakukan sekali dalam ujian, lalu lulus. Pola semacam ini tidak ada gunanya. Belajar praktis berarti belajar melalui pembiasaan, yakni diterapkan dari hari ke hari, tanpa henti, dengan sikap displin dan kesungguhan hati. Pada akhirnya, isi dari konsep belajar praktis akan menjadi bagian utuh dari kepribadian orang.
Metode ketiga adalah ketegasan. Belajar praktis tidak hanya menggunakan pikiran abstrak belaka, tetapi juga menggunakan gerak tubuh yang nantinya terbentuk menjadi kebiasaan sehari-hari yang bersifat otomatis. Segala pelanggaran harus diingatkan, misalnya jika orang tidak antri, tidak tepat waktu atau hanya bicara, dan tidak mau mendengarkan. Ketika pelanggaran dilakukan berulang kali tanpa alasan, maka hukuman yang pas layak diberikan.
Percuma kita menguasai beragam teori kimia organik dan anorganik, jika tidak memahami dan menerapkan konsep belajar praktis dalam hidup kita. Percuma kita menguasai ilmu penerbangan roket dan fisika nuklir, jika tidak tidak antri, tidak tepat waktu dan tidak mau mendengarkan orang lain. Percuma kita menguasai seluruh teori filsafat dan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah manusia, jika kita melupakan isi dan prinsip dari belajar praktis. Percuma kita memakai jubah dokter atau ilmuwan, atau bergelar doktor dan professor, jika kita bertingkah seperti hewan yang tidak bisa antri, tidak bisa tepat waktu dan tidak mau mendengarkan pihak lain.

Guru untuk Generasi Berkualitas

Edit Posted by with No comments


Arti Penting Guru dalam Pembentukan Generasi Berkualitas



Terlepas dari banyaknya persoalan yang dihadapi guru dalam hidup kesehariannya, guru tetaplah sosok penting yang cukup menentukan dalam proses pembelajaran. Walaupun sekarang ini ada berbagai sumber belajar alternatif yang lebih kaya, seperti buku, jurnal, majalah, internet, maupun sumber belajar lainnya, guru tetap menjadi kunci untuk optimalisasi sumber-sumber belajar yang ada. Guru tetap menjadi sumber belajar yang utama. Tanpa kehadiran guru, proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan secara maksimal. Orang mungkin dapat belajar mandiri (autodidak) secara maksimal sehingga kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu. Akan tetapi, autodidak tetap akan berbeda hasilnya dengan mereka yang juga sama-sama berusaha dengan maksimal di bawah bimbingan guru.
Guru atau pendidik merupakan sosok yang seharusnya mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh ilmu yang dimilikinya dalam proses pembelajaran dalam makna yang luas, toleran, dan senantiasa berusaha menjadikan siswanya memiliki kehidupan yang lebih baik. Secara prinsip, mereka yang disebut sebagai guru bukanlah hanya mereka yang memiliki kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh lewat jenjang pendidikan di perguruan tinggi saja, tetapi yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan siswa cerdas dalam aspek intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil dalam melaksanakan aktifitas secara efektif dan efisien, serta tepat guna. Guru tidaklah cerdas untuk dirinya sendiri namun dapat menyebarkan virus kecerdasan untuk orang lain (anak didiknya).
Di sinilah letak pentingnya peranan seorang guru. Sehingga bukan hal yang terlalu berlebihan jika ada penilaian bahwa berhasil atau tidaknya proses pendidikan tergantung kepada peranan guru. Walaupun peranannya sangat menentukan, namun harus disadari bahwasanya guru bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan atau kegagalan pembelajaran. Sebab, keberhasilan atau kegagalan pembelajaran dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, guru harus menghindari sikap merasa sebagai pihak paling berjasa dan paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran. Begitulah kehebatan dan pengaruh guru pada sebuah lembaga di mana ia bernaung. Hanry Adam, seorang sejarahwan terkemuka, sebagaimana dikutip M. Nurdin (2004:32), mengatakan: A teacher effect eternity, he can never tell where his influence stops (Seorang guru itu berdampak abadi, ia tidak pernah tahu dimana pengaruhnya itu berhenti).
Dalam konsep pendidikan tradisional Islam, menurut Piet A. Sahertian, posisi guru sangatlah terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang 'alim, wara', shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga beramal shaleh sebagai aktualisasi dari keilmuan yang dimilikinya. Sebagai guru, ia juga bertanggung jawab kepada siswanya, tidak saja ketika proses pembelajaran berakhir, bahkan sampai di akhirat. Oleh karena itu, wajar jika mereka diposisikan sebagai orang-orang penting dan mempunyai pengaruh besar pada masanya, dan seolah-olah memegang kunci keselamatan rohani dalam masyarakat (Ngainun Naim, 2009:5).
Seiring perkembangan zaman, posisi dan peran guru juga mengalami perubahan. Otoritas guru semakin menyusut di tengah gerusan perubahan yang semakin kompleks. Guru kini menghadapi tantangan besar yang semakin hari semakin berat. Hal ini menuntut seorang guru untuk senantiasa melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas peribadi maupun sosialnya. Tanpa usaha semacam ini, posisi dan peranan guru akan semakin terkikis.
Jika seorang guru senantiasa memiliki spirit yang kuat untuk meningkatkan kualitas pribadi maupun sosialnya, maka keberhasilan dalam menjalankan tugasnya akan lebih cepat untuk tercapai, yaitu mampu melahirkan para siswa yang memiliki budi pekerti luhur, memiliki karakter sosial dan profesional sebagaimana yang menjadi tujuan fundamental dari pendidikan.

Aku dan Waktu

Edit Posted by with No comments

                                                   Aku dan Waktu

Manusia didunia ini pasti banyak yang merasakan bahwa hidupnya seperti dikejar-kejar oleh waktu. Mereka merupakan perancang masa depan yang hebat dalam hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.
         Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

          Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

        Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

    Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal.

        Nilai dan pola masyarakat telah kita telan menjadi nilai pribadi kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai proses internalisasi nilai. Kita tidak lagi secara sadar melihat perbedaan antara nilai-nilai pribadi yang kita punya, dan nilai-nilai masyarakat yang ditanamkan pada kita. Ketika kita gagal mewujudkan semua ini, kita pun lalu hidup dalam penderitaan.

         Semua rencana ini berpijak pada satu pandangan tentang waktu. Kita memacu diri kita untuk bisa berlari dengan waktu. Bahkan, kita pun merasa terus dikejar oleh waktu